Konsep manusia otentik menurut Søren Kierkegaard

Prayudi, Ferdinandus Eltyson (2017) Konsep manusia otentik menurut Søren Kierkegaard. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (499kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1)
BAB I.pdf

Download (262kB) | Preview
[img] Text (BAB 2)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (316kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 3)
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (555kB) | Request a copy
[img]
Preview
Text (BAB 4)
BAB IV dan DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (370kB) | Preview

Abstract

Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan penulis terhadap sikap hidup manusia yang sekedar terpusat pada penampilan lahiriah dan cenderung mengabaikan sikap batin. Hidup manusia menjadi palsu sebab segala hal yang dikerjakan tidak dengan penghayatan. Hidup tanpa penghayatan adalah hidup yang tidak otentik. Hidup manusia tidak dimaknai sebagai usaha untuk terus menerus membuat pilihan-pilihan baru secara personal dan subjektif. Padahal, setiap individu berhak mengambil keputusan eksistensial pada hidup yang dipilihnya. Bertolak dari kenyataan itu, penulis merasa bahwa manusia zaman ini perlu mengusahakan dirinya untuk menjadi manusia otentik. Manusia otentik adalah manusia yang mampu menyelaraskan kehidupan batin dengan penampilan lahiriah. Keselarasan hidup lahiriah dan hidup batiniah menjadi tanda keseriusan hidup untuk berjuang dan bergulat sungguh-sungguh dengan eksistensinya. Penulis menggali otentisitas manusia melalui pemikiran seorang filsuf yang mempunyai fokus persoalan manusia otentik, yaitu Søren Kierkegaard. Rumusan masalah dalam skripsi ini ialah bagaimana mewujudkan manusia otentik menurut Søren Kierkegaard. Pertanyaan ini dijawab dengan menganalisa pemikiran Søren Kierkegaard secara kritis dan sistematis. Dengan menjawab pertanyaan ini, penulis berharap agar skripsi ini dapat memberikan kritik sekaligus inspirasi bagi masyarakat dewasa ini. Metode penulisan yang digunakan dalam skripsi ini ialah studi pustaka dengan sumber utama dari buku Concluding Unscientific Postscrift (1846) karya Søren Kierkegaard. Dari hasil studi pustaka, penulis menemukan bahwa konsep manusia otentik menurut Søren Kierkegaard terkait dengan manusia sebagai individu konkret yang memiliki inisiatif, kebebasan, dan tanggung jawab. Kebebasan di dalam manusia, mengarahkan dirinya untuk mampu menentukan siapa dirinya dan akan menjadi apa pada masa depan. Karena itu, manusia pada langkah pertama harus mampu menentukan pilihan, setelah itu keputusan-keputusan menjadi bermakna. Tanpa kebebasan untuk menentukan pilihan, individu tidak menjalani eksistensinya. Dengan kata lain, individu tidak bebas untuk memilih dan membuat keputusan. Kebebasan diri individu untuk memilih dan membuat keputusan adalah wujud tanggung jawab atas dirinya sendiri. Pertanggungjawaban itu menjadi identitas manusia sebagai aktor penentu eksistensi. Menjadi penentu eksistensi bukan berarti bebas tanpa batas. Manusia sebagai penentu eksistensi terkait dengan tanggung jawabnya mengatur diri. Tindakan yang bertanggungjawab menjadi syarat penting untuk menuju manusia otentik. Individu pada akhirnya memainkan peran aktif dan inisiatif dalam tugasnya menjalankan kehidupan. Manusia tidak hanya sekedar larut dalam kecenderungan umum di dalam masyarakat, tetapi mampu menunjukkan pembedaan yang lahir dari dalam dirinya yang bebas. Individu harus bebas sehingga individu dapat bertanggung jawab atas dirinya. Mengadanya individu berarti berani membuat keputusan dengan kesadaran. Keputusan yang diambil oleh individu harus bersifat bebas dan menentukan hidup eksistensialnya. Melalui pengalaman eksistensial itu, ada-nya manusia individu dibentuk. Bagi Kierkegaard, individu yang dimaksud adalah individu yang sadar dan sungguh meresapi segala pengalaman eksistensialnya. Individu tidak larut dalam kesadaran universal seperti yang dinyatakan Hegel. Individu Kierkegaard adalah aktor yang tahu dan mau dengan berani atas segala pilihan dan sikap hidupnya. Kesadaran individu sebagai aktor yang sungguh memahami dirinya dalam memberi arah pada eksistensinya, berkembang melalui tiga tahap. Pada tahap estetis, individu lebih menekankan pada hal-hal indrawi atau kesenangan sesaat. Pada tahap etis, individu menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan patokan-patokan moral universal. Pada tahap religius, individu menemukan kepenuhan eksistensinya di dalam Allah. Barulah di tahap religius ini, manusia menemukan otentisitasnya sebab berelasi dengan Allah sifatnya selalu personal dan lahir dari dalam dirinya sendiri. Manusia yang memutuskan berelasi dengan Allah pasti selalu memerhatikan hidup batin. Kedua tahap lain cenderung mengabaikan hidup batin. Menurut Kierkegaard, hanya dalam tahap religius, pilihan dan keputusan dapat diwujudkan secara pribadi. Seperti halnya iman bukan menjadi urusan kolektif, melainkan menjadi urusan pribadi. Relasi dengan Allah dapat terjadi bukan dengan memikirkan, membicarakan, dan merefleksikan Allah secara terus menerus. Individu harus masuk dalam subjektivitas dengan merenungkan Allah secara batin. Hanya melalui subjektivitas dan hidup batin itulah, manusia otentik dapat dicapai. Dengan kata lain, otentisitas dapat tercapai ketika manusia individu memiliki kebulatan tekad untuk mewujudkan keputusan eksistensial. Kebulatan tekad dapat terwujud ketika keputusan mengenai sikap dan tindakannya berdasarkan kehendak Allah dalam subyektivitasnya atau kedalaman diri personal.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: manusia otentik, pilihan dan keputusan, kebebasan, tanggung jawab, pengalaman eksistensial, tahap religius, subjektivitas.
Subjects: Philosophy
Divisions: Faculty of Philosophy > Philosophy Science Study Program
Depositing User: Ferdinandus Eltyson Prayudi
Date Deposited: 20 Jun 2017 02:27
Last Modified: 17 Jan 2018 08:23
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/11093

Actions (login required)

View Item View Item