Konsep rasa manusia menurut Ki Ageng Suryomentaram

Graha, Bernadus Satya (2015) Konsep rasa manusia menurut Ki Ageng Suryomentaram. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (331kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1)
Bab I Pendahuluan.pdf

Download (187kB) | Preview
[img] Text (BAB 2)
Bab II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (340kB)
[img] Text (BAB 3)
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (566kB)
[img] Text (BAB 4)
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (260kB)
[img]
Preview
Text (BAB 5)
BAB V Penutup.pdf

Download (328kB) | Preview
[img] Text (LAMPIRAN)
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only

Download (124kB)

Abstract

Karya tulis ini merupakan sebuah kajian atas pemikiran Ki Ageng Suryomentaram tentang “rasa” manusia. Masalah pokok yang hendak dikaji dalam penelitian ini adalah apa konsep “rasa” manusia menurut Ki Ageng Suryomentaram, dan bagaimana konsep “rasa” tersebut mampu membantu manusia untuk mengenal dirinya dan menyikapi permasalahan hidup yang ada. Tujuannya adalah pertama, ingin mendalami dan memahami konsep “rasa” manusia menurut Ki Ageng Suryomentaram. Kedua, ingin menunjukkan bahwa dengan memahami konsep “rasa” manusia menurut Ki Ageng Suryomentaram, manusia semakin terbantu untuk mampu mengenal dirinya dan menyikapi permasalahan hidup yang ada. Untuk menunjang tujuan tersebut, penulis menggunakan metode penelitian studi pustaka. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, penulis hendak menarik kesimpulan berdasarkan rumusan masalah. Kesimpulan tersebut penulis paparkan sebagai berikut: Pertama, menurut Ki Ageng, bicara soal rasa manusia pertama-tama perlu memahami konsep antropologisnya terlebih dahulu. Bagi Ki Ageng, manusia adalah benda hidup yang mempunyai perasaan, sebab tanpa rasa manusia sama halnya dengan mayat. Ada sembilan jenis rasa yang penulis temukan dalam ajaran-ajaran Ki Ageng. Jenis-jenis rasa tesebut antara lain, rasa hidup, rasa senang dan susah, rasa suka dan benci, rasa aku “Kramadangsa”, rasa sama, rasa bebas, rasa abadi, rasa kasih, dan rasa aku. Kesembilan jenis rasa tersebut dapat digolongkan menjadi empat tingkat berdasarkan ukuran manusia yang ada dalam ajaran-ajaran Ki Ageng. Keempat ukuran tersebut oleh Nanik Prihartanti disebut sebagai tingkatan fisik, emosi, intelek, dan intuisi. Dalam tingkat fisik ada rasa hidup. Hidup manusia dalam tingkatan fisik sama seperti hidup seorang bayi yang sudah merasakan sesuatu, tetapi badan dan bagian-bagiannya belum dapat digunakan untuk mengikuti perasaannya. Dalam tingkat emosi ada rasa senang-susah, dan rasa suka-benci. Hidup dalam tingkat emosi sama dengan kehidupan hewan yang hanya mengikuti nalurinya saja, tanpa ada pengertian terhadap sifat-sifat benda tertentu yang dihadapinya. Sehingga dalam hubungannya dengan benda, entah benda hidup atau benda mati, ia sering keliru. Dalam tingkatan intelek ada rasa “Aku Kramadangsa.” Hidup dalam tingkat intelek adalah hidup manusia yang badannya sudah dapat dipergunakan untuk menuruti perasaannya, serta ia sudah dapat mengerti sifat hukum alam benda, karena akal budinya sudah berfungsi. Dalam rasa “aku Kramadangsa”, mengandung sifat egoistik sehingga dapat membuat orang lupa diri karena dikendalikan oleh catatan-catatan hidupnya. Dalam tingkat intuisi ada rasa sama, rasa bebas, rasa abadi, rasa kasih dan rasa aku. Hidup dalam tingakat intuisi adalah hidup manusia dalam hubungannya dengan benda hidup yang mempunyai rasa. Intuisi tersebut bukanlah suatu tindakan yang spekulatif belaka, namun dibangun atas dasar pengalaman dan pengetahuan yang benar, sehingga kepekaan batin seseorang menjadi semakin tajam. Demikianlah konsep rasa manusia menurut Ki Ageng Suryomentaram. Kedua, menurut Ki Ageng, agar manusia mampu mengenal dirinya, dan mampu mengatasi permasalahan hidupnya, ia perlu sampai pada ukuran IV atau tingkat rasa Intuisi. Tingkatan tersebut hanya dapat dicapai ketika seseorang mampu mawas diri. Mawas diri adalah usaha untuk mengerti rasa diri sendiri. Mawas diri tersebut berfungsi sebagai pengontrol dari adanya tarikan atau dorongan catatan-catatan Kramadangsa. Jika berhadapan dengan rasa orang lain, mawas diri berfungsi sebagai cara untuk merasakan rasa orang lain agar orang tidak mementingkan kenyamanannya sendiri dengan mengabaikan kenyamanan orang lain. Menurut Ki Ageng, ada tiga langkah yang perlu dilakukan oleh seseorang agar ia mampu mencapai Ukuran IV atau tingkat intuisi. Pertama, meneliti tanggapan rasa suka dan benci. Kedua, mencari rasa sama. Ketiga, bertindakan berdasarkan penglihatan serta pengertian.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Ki Ageng Suryomentaram, rasa manusia, Kramadangsa, manusia tanpa ciri, mawas diri
Subjects: Philosophy
Divisions: Faculty of Philosophy > Philosophy Science Study Program
Depositing User: stefanus redhitya
Date Deposited: 07 Jun 2018 06:59
Last Modified: 11 Jun 2019 02:26
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/14674

Actions (login required)

View Item View Item