Makna kerja dalam laborem exercens artikel 4-10 menurut Yohanes Paulus II

Wijaya, Andreas Vidi (2015) Makna kerja dalam laborem exercens artikel 4-10 menurut Yohanes Paulus II. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
LEMBAR SAMPUL-ABSTRAKSI.pdf

Download (231kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1)
BAB 1.pdf

Download (174kB) | Preview
[img] Text (BAB 2)
BAB 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (315kB)
[img] Text (BAB 3)
BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (455kB)
[img]
Preview
Text (BAB 4)
BAB 4.pdf

Download (242kB) | Preview

Abstract

Laborem Exercens merupakan ensiklik dari Yohanes Paulus II yang menghadirkan refleksi teologis dan filosofis atas kerja manusia. Studi terhadapnya yang disampaikan dalam karya tulis ini bermaksud menguraikan makna kerja yang diungkapkan ensiklik itu, khususnya artikel 4-10 dan merefleksikan bagaimana makna tersebut diwujudkan dalam kerja manusia. Refleksi atas makna kerja sebagaimana ditunjukkan studi dokumental atas suatu ensiklik ini penting untuk mengangkat dan mempromosikan keluhuran makna kerja, sebagai salah satu aktivitas yang paling banyak dilakukan manusia, di hadapan begitu beragamnya pandangan atasnya, yang berpengaruh pada perlakukan manusia pada yang lain. Refleksi ini dilakukan dengan meletakkan filsafat personalisme Karol Wojtyła untuk memahami paparan mengenai makna kerja menurut ensiklik tersebut dan menarik implikasi-implikasi etisnya. Makna kerja yang diajukan Laborem Exercens 4-10, ialah: pertama, dengan kerjanya, manusia merealisasikan dirinya sebagai mahkluk yang berakal budi yang tidak terpisah dari rencana Penciptanya padanya untuk menghadirkan kuasa-Nya di alam dengan mengelolanya dengan akal budinya. Kedua, bekerja adalah cara yang dilakukan oleh manusia untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya sebagai manusia yang perlu untuk mempertahankan hidupnya sebagai manusia seturut tatanan dari Sang Pencipta. Ketiga, dengan bekerja, manusia mampu memberikan sumbangan bagi kesejahteraan masyarakat yang lebih besar, yang mana ini dimulai dari keluarga. Ketiga makna ini berdasar pada visi antropologis kristiani yang pada Yohanes Paulus II itu tersusun dalam personalismenya. Dengan personalisme, dapat ditarik implikasi-implikasi etis mengenai bagaimana kerja seharusnya dipandang dan dilakukan dalam relasi interpersonal. Dalam terang personalisme, bisa dimengerti bahwa keluhuran makna kerja tidak bisa lepas dari keluhuran martabat manusia. Itulah sebabnya, persoalan-persoalan sehubungan dengan kerja, yang mana salah satunya adalah system outsourcing patut diberikan pertimbangan kritis. Pemaknaan atas kerja sebagaimana ditunjukkan Laborem Exercens mendapatkan wujud konkretnya misalnya dalam kerja yang dilakukan para karyawan atau karyawati Gereja, yang melampaui sekadar orientasi pada upah. Hubungan makna kerja dan praktik terhadapnya berkenaan langsung dengan penghormatan atau perendahan martabat manusia

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Department: ["eprint_fieldopt_department_Faculty of Philosophy" not defined]
Subjects: Philosophy
Divisions: Faculty of Philosophy > Philosophy Science Study Program
Depositing User: stefanus redhitya
Date Deposited: 07 Jun 2018 07:08
Last Modified: 07 Jun 2018 07:08
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/14675

Actions (login required)

View Item View Item