Antisipasi keberadaan mikotoksin : aflatoksin dan okratoksin A pada kakao dan olahannya

Budianta, Tarsisius Dwi Wibawa (2012) Antisipasi keberadaan mikotoksin : aflatoksin dan okratoksin A pada kakao dan olahannya. Discussion Paper (Penulisan dan Seminar Ilmiah) . Widya Mandala Catholic University Surabaya. (Unpublished)

[img]
Preview
Text (Simposium dan ekspo kakao Nasional 2012)
ANTISIPASI KEBERADAAN OKRATOKSIN A.pdf

Download (724kB) | Preview

Abstract

Mikotoksin adalah metabolit sekunder yang diproduksi jamur, yang keberadaannya perlu diantisipasi karena merupakan senyawa dengan sifat beracun bagi manusia dan hewan. Diantara beberapa mikotoksinpada kokoa dan produk olahannya, aflatoksin (AF) dan okratoksin A (OTA) menjadi perhatian yang utama, disebabkan keberadaan dan sifat toksisitasnya yang sangat tinggi. Aflatoksin diproduksi oleh Aspergillus terutama Aspergillus flavus dan A. Parasiticus, mempunyai sifat hepatotoxic, teratogenik, mutagenik dan karsinogenik. Mikotoksin OTA digolongkan sebagai senyawa yang nefrotoksik, bersifat karsinogenik, imunosupresif, dan teratogenik. Sumber penghasil OTA adalah spesies jamur patogen tanaman antara lain Aspergillus, dan Penicillium, namun penghasil utama adalah Aspergillus ochraceus dan A. Carbonarius. Kesulitan untuk dapat memprediksi kontaminasimikotoksin dalam produk hasil pertanian, disebabkan keberadaan mikotoksintergantung pada interaksi berbagai faktor intrinsik dan ekstrinsik, antara lain kadar air, temperatur, RH, jenis produk, spesies fungi endogen, kondisi proses, kondisi penyimpanan, waktu penyimpanan, kondisi dan waktu transit . Mengingat keberadaan mikotokasin menyebabkan produk kakao dan olahannya tidak aman untuk dikonsumsi, maka antisipasi perlu dilakukan oleh semua pihak yang terkait.Keberadaaanmikotoksindapat dicegah melalui strategi penanganan pra-panen, selama panen, dan pasca panen, menggunakan sistem penjaminan mutu. Apabila mikotoksin sudah terlanjur ada pada produk kakao dan olahannya maka tindakan detoksifikasi dapat segera dilaksanakan. Detoksifikasi dapat dilakukan antara lain meggunakan metode fisis (menggunakan sinar gamma), metode kimiawi (menggunakan perlakuan alkali), metode mikrobiologis (menggunakan enzym carboxypeptidase A, lipase, dan metalloenzyme). Apabila produk masih tercemar mikotoksin, maka pencegahan aktifitas OTA harus dilakukan. DikarenakanOTA dikenal sebagai penyebab kerusakan membran sel melalui peningkatan proses peroksidasi lipida, maka untuk menghambat aktivitasnya digunakan senyawa yang bersifat antioksidan. Senyawa yang digunakan antara lain polifenol, tokoferol dan retinol.

Item Type: Monograph (Discussion Paper (Penulisan dan Seminar Ilmiah) )
Uncontrolled Keywords: Antisipasi, pencegahan, detoksifikasi, karsinogen,aflatoksin, okratoksin, antioksidan
Subjects: Pharmacy
Agriculture and Food Technology
Engineering
University Publication
Divisions: Faculty of Agricultural Technology
Depositing User: Tarsisius Dwi Wibawa Budianta
Date Deposited: 08 Nov 2018 07:34
Last Modified: 08 Nov 2018 07:34
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/16321

Actions (login required)

View Item View Item