Teori kritis menurut Max Horkheimer dalam artikel traditional and critical theory

Krishananta, Andreas Putra (2019) Teori kritis menurut Max Horkheimer dalam artikel traditional and critical theory. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University of Surabaya.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1)
BAB 1.pdf

Download (201kB) | Preview
[img] Text (BAB 2)
BAB 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (254kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 3)
BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (327kB) | Request a copy
[img]
Preview
Text (BAB 4)
BAB 4.pdf

Download (328kB) | Preview

Abstract

Penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh keinginan penulis merenungkan tentang situasi masyarakat dewasa ini. Penulis melihat bahwa di dalam kehidupan masyarakat dewasa ini masih terjadi penindasan yang bersifat struktural. Masyarakat yang paling terkena dampak situasi ini adalah mereka yang lemah dan tak berdaya dalam struktur sosial. Masyarakat kecil sering dikorbankan untuk kepentingan pihak yang berkuasa. Situasi semacam ini bertolak-belakang dengan martabat manusia. Di sini, manusia diperlakukan sebagai sarana yang menunjang kepentingan pihak yang berkuasa. Pola pikir masyarakat dewasa ini yang cenderung positivis dan pragmatis turut andil dalam melahirkan situasi penindasan sosial. Pola pikir tersebut secara tidak langsung mendorong manusia untuk berpikir secara instrumentalis. Manusia digerakkan untuk mencari daya upaya agar bisa mewujudkan kepentingannya. Dalam hal ini, kepentingan pribadi atau kelompok menjadi prioritas yang dikejar. Manusia dimungkinkan untuk menggunakan segala daya upaya demi mewujudkan kepentingannya. Secara tidak langsung, rasio instrumental ini mengafirmasi penindasan sebagai sarana untuk mencapai kepentingan. Dengan demikian, rasio instrumental yang kuat melingkupi masyarakat dewasa ini rentan memunculkan penindasan di dalam masyarakat. Salah satu filsuf yang mengkritik situasi masyarakat dewasa ini ialah Max Horkheimer (1895-1973). Ia mengajukan gagasannya tentang teori kritis sebagai sarana untuk membebaskan masyarakat dari belenggu penindasan sosial. Gagasan teori kritis Max Horkheimer dibahas dalam artikel Traditional and Critical Theory. Bertolak dari latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mendalami teori kritis menurut Max Horkheimer. Adapun tujuan penelitian skripsi ini adalah untuk memenuhi kelulusan Strata Satu (S1) Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, menyelami gagasan teori kritis Max Horkheimer secara mendalam, serta merefleksikan gagasan teori kritis Max Horkheimer dalam konteks dewasa ini. Jenis penelitian yang digunakan dalam mengerjakan skripsi ini adalah penelitian kualitatif. Cara memperoleh data penelitian ialah dengan studi pustaka, yakni tulisan artikel Max Horkheimer Traditional and Critical Theory sebagai sumber primer dan ditunjang oleh referensi sekunder lainnya. Jenis penelitian skripsi ini ialah penelitian historis faktual mengenai tokoh. Penulis meneliti pemikiran Max Horkheimer, khususnya topik mengenai teori kritis dalam salah satu karyanya, yakni artikel Traditional and Critical Theory. Metode yang digunakan untuk menganalisis teks dalam penelitian skripsi ini ialah metode hermeneutika. Berdasarkan hasil penelitian, teori kritis merupakan teori yang mengarahkan segala daya pemikiran untuk memberi respon terhadap persoalan masyarakat serta mencari peluang bagi terwujudnya pembebasan masyarakat dari situsi penindasan. Di sini, teori kritis bersifat emansipatoris. Teori kritis dikatakan bersifat emansipatoris karena senantiasa memperjuangkan pembebasan manusia dari belenggu penindasan dan perbudakan. Sehari-hari, teori kritis selalu membawa manusia kepada kesadaran untuk mengubah masyarakat (society change awareness). Kesadaran ini menggerakkan manusia untuk tidak berpangku tangan terhadap situasi penindasan sosial. Society change awareness mendorong manusia untuk mengubah situasi penindasan yang menindih masyarakat. Sesungguhnya, hal ini memperlihatkan letak keberpihakan teori kritis. Teori kritis selalu berpihak kepada mereka yang menderita dan butuh dibebaskan. Dalam artikel Traditional and Critical Theory, Max Horkheimer menekankan bahwa teori kritis memiliki sikap curiga dan kritis yang memampukan untuk membuka manipulasi yang merugikan masyarakat. Selain itu, Max Horkheimer juga menekankan bahwa teori kritis senantiasa berpikir historis. Teori kritis tidak pernah absen untuk bergumul dengan berbagai kontradiksi (konflik) dalam masyarakat yang historis. Di sini, teori kritis berusaha mengatasi kontradiksi yang ada di masyarakat dengan mengupayakan penyelesaian terhadapnya. Terakhir, Max Horkheimer menekankan bahwa teori kritis menjunjung tinggi kesatuan antara teori dan praksis. Dalam hal ini, pemahaman atas situasi penindasan dalam masyarakat harus dimuarakan hingga ke praksis yang membebaskan masyarakat. Kiranya, kesatuan teori dan praksis diperlukan untuk mewujudkan visi emansipatoris teori kritis, yaitu membebaskan masyarakat dari perbudakan dan penindasan.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Teori kritis, emansipatoris, positivisme, rasio instrumental, penindasan
Subjects: Philosophy
Divisions: Faculty of Philosophy > Philosophy Science Study Program
Depositing User: Users 7208 not found.
Date Deposited: 12 Jul 2019 08:17
Last Modified: 12 Jul 2019 08:17
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/19110

Actions (login required)

View Item View Item