Rasionalitas hasrat dalam pemikiran Thomas Aquinas : Kajian terhadap Summa Theologica I-II Quaestiones 22-25

Sentosa, . (2014) Rasionalitas hasrat dalam pemikiran Thomas Aquinas : Kajian terhadap Summa Theologica I-II Quaestiones 22-25. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
Abstrak.pdf

Download (833kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1)
Bab 1.pdf

Download (187kB) | Preview
[img] Text (BAB 2)
bab 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (303kB)
[img] Text (BAB 3)
Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (491kB)
[img] Text (BAB 4)
Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (216kB)
[img]
Preview
Text (DAFTAR PUSTAKA)
Daftar Pustaka.pdf

Download (63kB) | Preview

Abstract

Manusia dalam keutuhan dirinya merupakan makhluk yang sangat kompleks. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa dengan begitu banyak kemampuan yang dimilikinya. Kesatuan manusia dalam tubuh dan jiwa tampak dalam segala sikap, perilaku, dan tindakannya. Aristoteles mengatakan bahwa manusia itu adalah animal rationale (hewan yang rasional). Unsur penting yang membedakan manusia dengan binatang adalah fakultas yang dimiliki oleh jiwa manusia sebagai animal rationale tersebut. Fakultas atau kemampuan yang khas dimiliki manusia sebagai animal rationale adalah kehendak dan akal budi. Kedua kemampuan ini adalah kemampuan yang bersifat rohaniah. Aquinas juga sependapat dengan Aristoteles dalam hal antropologi. Dalam kacamata Aquinas, manusia itu adalah animal rationale. Dalam filsafat epistemologinya, Aquinas menjelaskan bagaimana proses manusia mendapatkan suatu pengetahuan sampai menentukan xiv suatu tindakan. Aquinas membahas mengenai hasrat dalam Summa Theologica I-II quaestiones 22-48. Dalam karya tulis ini, penulis secara khusus membahas quaestiones 22-25. Dalam antropologinya, Aquinas menegaskan bahwa manusia itu adalah kesatuan tubuh dan jiwa. Tubuh sebagai materia, sedangkan jiwa sebagai formanya. Kemampuan-kemampuan yang dimiliki manusia ini ada yang khusus untuk jiwa sehingga kemampuan-kemampuan itu tetap berfungsi walaupun jiwa itu sudah lepas dari tubuh. Ada pula kemampuan yang hanya befungsi kalau jiwa itu masih bersatu dengan tubuh. Kemampuan yang dimiliki oleh jiwa manusia dalam dirinya sendiri adalah kehendak dan akal budi. Akan tetapi, dalam kehidupan di dunia material, kehendak dan akal budi membutuhkan organ jasmaniah manusia untuk bisa menangkap objek yang bersifat material. Kemampuan manusia yang muncul dari kesatuan tubuh dan jiwa adalah indera dan appetite inderawi. Karena itulah, kemampuan-kemampuan atau fakultas yang dimiliki manusia, yakni: indera, appetite inderawi, akal budi, dan kehendak. Untuk mendapatkan pengetahuan dan melakukan suatu tindakan, ada suatu proses yang dilalui manusia. Manusia memperoleh informasi dari dunia luar melalui panca indera sampai akhirnya diterima oleh akal budi. Kemudian, setelah informasi tersebut diterima oleh akal budi, maka kehendak (will) mulai bereaksi dengan usaha xv untuk menginginkan objek tersebut. Kemampuan dari kehendak ini hanya sebatas pada keinginan yang bersifat rohaniah saja. Supaya keinginan tersebut terwujud dalam tindakan, maka kemampuan yang bekerja adalah appetite inderawi. Appetite inderawi merupakan fakultas jiwa manusia yang membuat manusia bisa memiliki suatu keinginan yang konkret. Hasil dari tindakan atau operasi appetite inderawi ini adalah hasrat. Hasrat yang dimiliki manusia dapat dibagi menjadi dua macam, yakni hasrat concupiscible dan hasrat irascible. Hasrat-hasrat concupiscible adalah: cinta, benci, keinginan, penolakan, sukacita, dan kesedihan. Hasrat-hasrat irascible adalah: harapan, putus asa, keberanian, ketakutan, dan kemarahan. Secara kodratnya sebagai makhluk yang berakal budi, kemampuan yang jasmaniah ini harus tunduk dan berada di bawah kendali fakultas yang rohaniah. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari dapat terjadi bahwa hasrat terkadang bisa menguasai diri manusia dan mengalahkan dominasi akal budi dan kehendak. Hal itu terjadi karena hubungan akal budi dan kehendak dengan hasrat tidak bersifat despotic melainkan bersifat political. Maksudnya, hasrat itu tidak menuruti akal budi dan kehendak secara otomatis. Supaya akal budi dan kehendak bisa mengendalikan hasrat, harus ada training hasrat untuk menaati perintah-perintah dari akal budi dan kehendak. Manusia perlu menyadari bahwa seluruh tindakan dan sikapnya harus berdasarkan kontrol dari akal budi. Ini adalah bentuk kedewasaan seseorang dan sekaligus juga sebagai bentuk tanggung jawab seseorang atas xvi segala tindakan yang dilakukannya. Supaya akal budi dan kehendak bisa mengendalikan hasrat dengan baik, pengandaian yang digunakan dalam hal ini adalah akal budi dan kehendak sudah baik. Artinya adalah akal budi dan kehendak sudah memiliki keutamaan-keutamaan dalam tindakannya. Dengan demikian, hasrat yang dikendalikan oleh akal budi dan kehendak ini bisa membawa manusia pada tujuan akhirnya, yakni kebahagiaan

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Department: ["eprint_fieldopt_department_FAculty of Philosophy" not defined]
Uncontrolled Keywords: Thomas Aquinas, appetite inderawi, hasrat, antropologi, epistemologi, rasionalitas hasrat
Subjects: General > B Philosophy (General)
Divisions: Faculty of Philosophy > Philosophy Science Study Program
Depositing User: Vincentius Widya Iswara
Date Deposited: 08 Sep 2014 07:07
Last Modified: 21 Nov 2014 05:56
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/23

Actions (login required)

View Item View Item