Pola penggunaan obat bronkodilator pada pasien penyakit paru obstruktif kronik di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo

Aliyah, Muta (2020) Pola penggunaan obat bronkodilator pada pasien penyakit paru obstruktif kronik di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
ABSTRAK.pdf

Download (641kB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1)
BAB 1.pdf

Download (238kB) | Preview
[img] Text (BAB 2)
BAB 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (331kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 3)
BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (144kB) | Request a copy
[img] Text (BAB 4)
BAB 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (304kB) | Request a copy
[img]
Preview
Text (BAB 5)
BAB 5.pdf

Download (147kB) | Preview
[img] Text (LAMPIRAN)
LAMPIRAN.pdf
Restricted to Registered users only

Download (593kB) | Request a copy

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) atau chronic obstructive pulmonary disease (COPD) adalah penyakit paru yang ditandai oleh hambatan aliran udara yang bersifat progresif dan tidak sepenuhnya reversibel. Terapi farmakologi yang digunakan untuk pasien PPOK yaitu meliputi bronkodilator, kortikosteroid, antiinflamasi, antioksidan, phosphodiesterase-4 inhibitor, mukolitik dan antibiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk pengetahui pola penggunaan bronkodilator pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sidoarjo meliputi jenis, dosis, lama pemberian, frekuensi penggunaan bronkodilator dan dihubungkan dengan data laboratorium dan data klinik. Penelitian ini bersifat observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif dengan menggunakan rekam medis pasien PPOK periode Januari 2019 sampai Desember 2019 dengan penyajian data secara deskriptif. Hasil dan kesimpulan dari 36 sampel menunjukkan penggunaan terapi bronkodilator tunggal sebanyak 15 pasien (31%), sedangkan kombinasi sebanyak 34 pasien (69%). Rute pemberian bronkodilator intravena pada 35 pasien (46%), nebul pada 34 pasien (44%), sedangkan oral pada 8 pasien (10%). Terapi brokodilator tunggal yang paling banyak adalah aminofilin (2×240mg) i.v pada 14 pasien (93%), sedangkan kombinasi paling banyak yakni Aminofilin (2×240mg) i.v + Ipratropium bromide/Salbutamol (3×0,52mg/3,01mg) nebul + Budesonid (3×0,5mg) nebul pada 22 pasien (65%). Pergantian pola paling banyak yakni Ipratropium bromide/Salbutamol (3×0,52mg/3,01mg) nebul + Aminofilin (2×240mg) i.v + Budesonid (3×0,5mg) nebul → Aminofilin (2x240mg) i.v pada 7 pasien (32%).

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Department: S1 - Farmasi
Contributors:
ContributionContributorsNIDN / NIDKEmail
Thesis advisorHasmono, DidikNIDN0011095807gwae23@yahoo.com
Thesis advisorFaizah, Renny NurulNIK12048810142rennynurulfaizah@yahoo.com
Uncontrolled Keywords: Bronkodilator, PPOK, eksaserbasi akut, rawat inap, aminofilin.
Subjects: Pharmacy
Divisions: Faculty of Pharmacy > Pharmacy Study Program
Depositing User: Users 8946 not found.
Date Deposited: 27 Aug 2020 03:09
Last Modified: 27 Aug 2020 03:09
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/23392

Actions (login required)

View Item View Item