Perilaku asertif untuk keluar dari situasi kekerasan pada istri korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ditinjau dari peran gender feminin, maskulin, dan androgini

Swastinasari, Ima Maya (2008) Perilaku asertif untuk keluar dari situasi kekerasan pada istri korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ditinjau dari peran gender feminin, maskulin, dan androgini. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya.

[img]
Preview
Text (ABSTRAK)
Abstrak.pdf

Download (2MB) | Preview
[img]
Preview
Text (BAB 1)
BAB 1.pdf

Download (2MB) | Preview
[img] Text (BAB 2)
BAB 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (6MB)
[img] Text (BAB 3)
BAB 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[img] Text (BAB 4)
BAB 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (3MB)
[img] Text (BAB 5)
BAB 5.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)
[img]
Preview
Text (LAMPIRAN)
LAMPIRAN.pdf

Download (5MB) | Preview

Abstract

Kasus kekerasan terhadap perempuan yang terus mendominasi adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga. Dalam hal ini perilaku asertif sangat perlu dimiliki oleh para korban (istri) KDRT untuk keluar dari situasi kekerasan yang dialaminya. Perilaku asertif untuk keluar dari situasi kekerasan adalah mampu mengekspresikan pendapat dan perasaannya secara terbuka kepada lembaga konsultasi dan bantuan hukum mengenai ketidaksetujuannya terhadap situasi kekerasan dalam rumah tangga yang dialami. Keterbukaannya dalam menyatakan pendapat dan perasaannya tersebut menunjukkan ketegasan dalam berperilaku untuk mempertahankan hak pribadinya, namun tetap menjaga dan menghargai hak orang lain. Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kemampuan dalam berperilaku asertif adalah peran gender. Bem mengklasifikasikan peran gender menjadi 4, yaitu feminin, maskulin, andorgini, dan undifferentiated. Masing-masing peran gender tersebut memiliki karakteristik sifat sendiri, yang dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Massong (1982: 591) mengungkapkan bahwa perbedaan gender merupakan faktor yang mempengaruhi sikap asertif. Peran gender yang diteliti dalam penelitian ini adalah peran gender feminin, maskulin, dan androgini. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 90 orang. Subjek diambil dari beberapa lembaga pendamping perempuan korban kekerasan di Surabaya, Sidoarjo, Jember, dan Jombang. Metode pengumpulan data menggunakan skala perilaku asertif untuk keluar dari situasi kekerasan dan angket peran gender dari Bem Sex Role Inventory. Hasil penelitian dengan menggunakan SPSS 12.00, diperoleh nilai Chi Squre untuk perilaku asertif sebesar 9,679 dan nilai signifikansi sebesar 0,008 (p<0,05), sehingga dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan perilaku asertif untuk keluar dari situasi kekerasan antara subjek dengan peran gender feminin, maskulin, dan andorgini. Secara deskriptif diperoleh hasil bahwa subjek yang memiliki memiliki peran gender maskulin dan androgini memiliki tingkat asertivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan subjek yang memiliki peran gender feminin, sedangkan subjek dengan tingkat asertivitas yang paling tinggi adalah subjek yang memiliki peran gender maskulin.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Department: ["eprint_fieldopt_department_Faculty of Psycology" not defined]
Uncontrolled Keywords: Asertif, KDRT, peran gender
Subjects: Psychology
Divisions: Faculty of Psychology > Psychology Study Program
Depositing User: Users 33 not found.
Date Deposited: 13 Oct 2015 04:15
Last Modified: 13 Oct 2015 04:15
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/3408

Actions (login required)

View Item View Item