Sistem epistemologi Jean Piaget dan penerapannya dalam pendidikan

Christiawan, Stevanus Devi (2014) Sistem epistemologi Jean Piaget dan penerapannya dalam pendidikan. Undergraduate thesis, Widya Mandala Catholic University Surabaya.

[thumbnail of ABSTRAK]
Preview
Text (ABSTRAK)
Abstrak.pdf

Download (330kB) | Preview
[thumbnail of BAB 1]
Preview
Text (BAB 1)
BAB I.pdf

Download (253kB) | Preview
[thumbnail of BAB 2] Text (BAB 2)
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (299kB)
[thumbnail of BAB 3] Text (BAB 3)
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (401kB)
[thumbnail of BAB 4] Text (BAB 4)
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (355kB)
[thumbnail of DAFTAR PUSTAKA]
Preview
Text (DAFTAR PUSTAKA)
Daftar Pustaka.pdf

Download (236kB) | Preview

Abstract

Epistemologi adalah sebuah cabang ilmu filsafat yang hendak mengkaji lebih dalam hakikat pengetahuan manusia. Pertanyaan pokok dalam epistemologi adalah bagaimana saya tahu bahwa saya dapat tahu? Dengan pemahaman yang seperti inilah epistemologi sebagai sebuah ilmu bekerja. Hal ini ternyata banyak dipikirkan oleh para filsuf dari zaman ke zaman. Bahkan, Aristoteles, seorang filsuf pada masa Yunani Kuno pun telah menyadari bahwa semua manusia memiliki hasrat untuk mengetahui. Karena itulah, epistemologi menjadi sebuah ilmu yang terus diperbarui dan berkembang dari zaman ke zaman karena manusia selalu ingin mengetahui. Dengan perkembangan itulah, muncul berbagai aliran di dalam epistemologi. Dua aliran besar dalam epistemologi adalah rasionalisme dan Jean Piaget adalah seorang pemikir yang hendak membangun sistem epistemologinya sendiri. Meskipun lebih dikenal sebagai seorang psikolog, ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang biolog dan epistemolog. Ia menyebut sistem epistemologinya dengan epistemologi genetis (genetic epistemology). Ia menyebut sistem epistemologinya sebagai sebuah usaha untuk menjelaskan pengetahuan yang berdasarkan pada sejarah, asal usul sosial, dan terutama sisi psikologis dari pengertian-pengertian dan operasi-operasi yang mendasarinya. Piaget membangun sistem epistemologinya dengan tiga titik tolak pokok, yaitu biologi, psikologi, dan tentunya epistemologi. Biologi, terutama teori evolusi membantu Piaget untuk melihat bahwa pengetahuan di dalam diri seseorang pun berevolusi dengan menyesuaikan pengetahuan yang dimiliki dengan lingkungan sekitarnya. Hal ini terjadi dalam proses adaptasi, dan lebih spesifik dalam proses asimilasi dan akomodasi. Psikologi menjadi sebuah jembatan antara epistemologi dan biologi ketika ia melihat bahwa psikologi dapat menjadi sebuah dasar eksperimental untuk menjembatani keduanya. Dalam sistemnya, Piaget menolak sistem pemikiran empirisis dan juga rasionalis. Bagi Piaget, pengetahuan adalah sebuah rangkaian proses konstruksi untuk menghasilkan struktur pengetahuan. Karena merupakan proses konstruksi, maka pengetahuan pun harus dibangun sendiri oleh seseorang dengan cara berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitarnya. Pengetahuan pun berkembang melalui tindakan seseorang ketika ia erinteraksi dengan dunia. Karena itu, pengetahuan bagi Piaget akan sangat berorientasi pada tindakan manusia. Pemahaman yang seperti ini berbeda dengan pemikiran para filsuf epistemologi lain yang hendak memahami pengetahuan pada dirinya sendiri (knowledge on its own sake). Dalam sistem epistemologinya, Piaget hendak memahami pembentukan (formation) dan alat pengetahuan (means of knowledge). Maka, penekanan dalam sistem epistemologi Piaget adalah bagaimana pengetahuan berkembang dalam diri seseorang. Beberapa kata kunci untuk memahami sistem epistemologi Piaget adalah operasi, struktur pikiran atau skema, ekuilibrasi, akomodasi, dan asimilasi. Operasi adalah sebuh tindakan yang harus dilakukan seseorang untuk membangun sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang ada di dalam diri subjek tampak dalam struktur pikiran atau skema (jamak : skemata). Skema inilah yang terus berkembang di dalam diri subjek. Proses perkembangan ini terjadi karena struktur itu selalu mengarah pada keseimbangan (kondisi quilibrium). Perkembangan skema terjadi ketika skema di dalam subjek berbeda dengan lingkungan di luar. Hal ini disebut dengan kondisi ketidakseimbangan (disequilibrium). Dalam kondisi ini seseorang harus berusaha untuk menyeimbangkannya lagi. Untuk itu, ia harus melalui dua proses, yaitu proses asimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi, subjek akan ‘mengubah’ lingkungan di luar dirinya agar sesuai dengan skema yang ada di dalam. Sedangkan dalam proses akomodasi, lingkungan luar akan ‘memaksa’ subjek untuk mengubah skema yang ada di dalam atau membuat skema baru agar lingkungan luar dapat lebih dipahami. Kedua proses ini dikenal dengan istilah proses ekuilibrasi. Perkembangan skema di dalam diri subjek diteliti oleh Piaget dengan membagi tahap-tahap perkembangan kognitif dalam diri anak. Ia membaginya menjadi empat, yaitu tahap sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, dan operasional formal. Dengan pembagian tahap ini, Piaget juga melihat bahwa perkembangan struktur pikiran akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kematangan organ walaupun dinamisme perkembangan antara keduanya memiliki karakteristik yang khas dan berbeda. Dengan pemahaman sistem epistemologi yang seperti itu, pemikiran Piaget dapat diterapkan pula dalam proses pendidikan. Karena baginya proses mengetahui dalam diri seseorang harus berorientasi pada tindakan yang berinteraksi langsung dengan lingkungan (menekankan keaktifan seseorang dalam membangun pengetahuan), maka pendidikan dalam pikiran Piaget adalah pendidikan yang harus semakin berorentasi pada anak didik (child-centered education). Dengan pemahaman yang seperti itu, pendidikan pun hendaknya selalu membawa anak didik untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan dalam dirinya. Anak didik memperoleh pengetahuan dengan mengadaptasikan struktur kognitifnya terhadap lingkungan. Dengan sistem epistemologi dan pendidikan yang seperti ini, Piaget telah membawa sebuah pembaruan tersendiri dalam bidang pendidikan. Baginya, pendidikan harus membawa kebebasan dalam diri anak didik untuk membangun sendiri pengetahuannya. Kebebasan untuk membangun sendiri pengetahuan dalam pendidikan menjadi sesuatu yang amat penting pada masa ini karena pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja dari satu orang ke orang lain. Akan tetapi, sebaliknya, seorang anak didik harus membangun sendiri struktur berpikir atau pengetahuannya sendiri secara aktif. Hal ini bertolak belakang dengan pendidikan yang terjadi sekarang. Kebanyakan, pendidikan hanya akan mentransfer pengetahuan yang dimiliki pendidik kepada anak didiknya. Hal ini berarti bahwa anak didik harus menerima mentah-mentah ilmu yang diberikan pendidiknya. Dengan sistem epistemologi Piaget dan penerapannya dalam pendidikan, diharapkan muncul sebuah pemahaman yang benar tentang pendidikan yang benar-benar membebaskan dan mengembangkan anak didik. Dengan begitu, pendidikan bukan lagi sesuatu yang mengekang dan membatasi anak didik, akan tetapi pendidikan dapat semakin membebaskan seorang anak didik untuk membangun sendiri pengetahuannya.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Department: ["eprint_fieldopt_department_FAculty of Philosophy" not defined]
Uncontrolled Keywords: epistemologi, epistemologi genetis, operasi, skema, ekuilibrium, akomodasi, asimilasi, pendidikan
Subjects: General > B Philosophy (General)
Divisions: Faculty of Philosophy > Philosophy Science Study Program
Depositing User: Vincentius Widya Iswara
Date Deposited: 08 Sep 2014 07:17
Last Modified: 04 Mar 2015 05:57
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/24

Actions (login required)

View Item View Item