Perbaikan mutu minyak goreng bekas dengan biosorbent dari limbah kulit buah matoa

Toda, Victorina Vinsensiani and Da Silva, Rosalia Maria (2015) Perbaikan mutu minyak goreng bekas dengan biosorbent dari limbah kulit buah matoa. Working Paper (Laporan Penelitian Laboratorium (FT-Kimia)). Faculty of Engineering, Surabaya. (Unpublished)

[thumbnail of ABSTRAK]
Preview
Text (ABSTRAK)
1.Abstrak.pdf

Download (3MB) | Preview
[thumbnail of BAB 1]
Preview
Text (BAB 1)
Bab 1.pdf

Download (20kB) | Preview
[thumbnail of BAB 2] Text (BAB 2)
Bab 2.pdf
Restricted to Registered users only

Download (546kB)
[thumbnail of BAB 3] Text (BAB 3)
Bab 3.pdf
Restricted to Registered users only

Download (229kB)
[thumbnail of BAB 4] Text (BAB 4)
Bab 4.pdf
Restricted to Registered users only

Download (614kB)
[thumbnail of BAB 5]
Preview
Text (BAB 5)
Bab 5.pdf

Download (227kB) | Preview
[thumbnail of LAMPIRAN] Text (LAMPIRAN)
Lampiran.pdf
Restricted to Registered users only

Download (1MB)

Abstract

Penggunaan minyak yang berulang-ulang bisa menyebabkan terjadinya proses hidrolisis, oksidasi, polimerisasi, dan reaksi pencoklatan saat digunakan untuk menggoreng dimana bisa mengakibatkan efek buruk bagi kesehatan manusia. Akibat dari tingginya harga minyak goreng, maka dibutuhkan suatu metode untuk memperbaiki mutu minyak goreng yang telah dipakai. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu adsorben alami atau yang lebih dikenal dengan nama biosorbent untuk memperbaiki mutu dari minyak goreng bekas. Salah satu bahan alami yang mempunyai potensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku biosorbent adalah limbah kulit buah matoa. Matoa (Pometia pinnata) adalah tanaman buah asli khas Papua. Biosorbent ini diharapkan dapat menurunkan kadar FFA dalam minyak goreng bekas sehingga minyak goreng bekas dapat dipakai kembali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh parameter suhu aktivasi adsorben, massa adsorben, dan waktu adsorpsi terhadap mutu minyak goreng bekas yaitu kadar FFA, bilangan peroksida, dan warna. Karakteristik dari biosorbent kulit matoa juga dipelajari. Kulit matoa mula-mula dikeringkan dalam oven untuk mendapatkan hasil serbuk dengan kadar air 8-10%. Serbuk kulit matoa lalu diaktivasi dalam furnace dengan berbagai variasi suhu selama 1 jam. Setelah aktivasi, didapatkan biosorbent untuk diaplikasikan dalam minyak goreng bekas dengan variasi massa adsorben dan waktu adsorpsi yang ditentukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu aktivasi biosorbent maka kadar FFA dan bilangan peroksida minyak goreng bekas yang didapat semakin tinggi pula. Pada kisaran rasio massa adsorben 3%, 6%, dan 9% diperoleh bahwa rasio massa adsorben 6% memberikan hasil % FFA dan bilangan peroksida terendah, diikuti dengan rasio massa adsorben 9% dan 3 %. Untuk waktu adsorpsi, semakin lama waktu adsorpsi maka kadar FFA dan bilangan peroksida minyak goreng bekas yang diperoleh semakin menurun. Kondisi proses adsorpsi optimum dengan % penurunan FFA dan % penurunan bilangan peroksida tertinggi (49,26% dan 85,98%, secara berurutan) adalah pada proses adsorpsi dengan rasio massa adsorbent terhadap minyak goreng bekas 6% dan waktu adsorpsi 45 menit menggunakan biosorbent kulit buah matoa yang diaktivasi pada suhu 600°C.

Item Type: Monograph (Working Paper (Laporan Penelitian Laboratorium (FT-Kimia)))
Department: ["eprint_fieldopt_department_Faculty of Engineering" not defined]
Subjects: Engineering
Divisions: Faculty of Engineering > Chemical Engineering Study Program
Depositing User: Users 14 not found.
Date Deposited: 05 Aug 2016 04:50
Last Modified: 05 Aug 2016 04:50
URI: http://repository.wima.ac.id/id/eprint/6917

Actions (login required)

View Item View Item